ReviewVicios circleMar 19, '08 4:41 AM
for everyone
Category:Other
Menurut data BPS, pada bulan maret 2007 jumlah penduduk miskin di Indonesia sebesar 37,17 juta orang atau 16, 58 % atau tiga kali lipat penduduk singapura. Ini bukanlah jumlah yang sedikit, 37,17 juta orang adalah jumlah yang besar. Banyak orang berpendapat kemiskinan itu disebabkan oleh kemalasan, mungkin in some case kemiskinan memang disebabkan oleh kemalasan. Tak tahukah engkau masyarakat miskin menghabiskan hampir seluruh harinya untuk bekerja mencari uang, mereka tidak bisa disebut pemalas, mereka bahkan lebih rajin dari kita, dan sampai sekarang mereka tetap miskin.. Kemiskinan telah menjadi vicious circle (lingkaran setan).

Aku lebih setuju pendapat yang mengatakan bahwa kemiskinan disebabkan oleh sistem. Tentu saja sitem kapitalis yang berpihak pada orang – orang yang memiliki kapital. Seorang pedagang gorengan setiap hari berjualan dari pagi sampai malam, harga minyak yang melonjak, harga terigu yang melambung, semakin membuat mereka tercekik, keuntungan yang diperolehpun semakin menipis, dan mereka tidak dapat keluar dari lingkaran setan kemiskinan.

Kemiskinan merupakan masalah terbesar sebuah negara, berbagai cara harus ditempuh untuk menanggulangi masalah kemiskinan, salah satu cara adalah membuka akses pinjaman modal pada mereka, modal yang dapat digunakan untuk melakukan usaha. Tapi apakah penduduk miskin bisa mendapat pinjaman modal ? bank mana di Indonesia ini yang mau meminjamkan uang tanpa agunan ? masyarakat miskin dianggap tidak bankable, karena tidak dapat memenuhi persyaratan administratif termasuk agunan, masyarakat miskin dianggap tidak akan dapat mengembalikan pinjaman, masyarakat miskin dianggap tidak dapat mengelola uang pinjaman, dan masih banyak lagi stigma negatif lainnya. Padahal memberikan kredit pada kaum miskin merupakan salah satu cara efektif untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat miskin.

Adalah Muhammad Yunus[1], seorang dosen ekonomi Chittangong University Bangladesh, yang mematahkan stigma negatif tersebut. Bukan melalui kuliah – kuliah dikelasnya, tetapi melalui Grameen Bank yang dirintisnya, beliau memerangi kemiskinan. Gramen Bank adalah bank yang memberi pinjaman kepada kaum perempuan miskin bangladesh tanpa agunan. Yunus membuktikan bahwa masyarakat miskin layak mendapatkan kredit dan masyarakat miskin adalah pembayar angsuran yang paling taat, menurut Yunus Masyarakat miskin mempunyai alasan kuat untuk membayar kreditnya kembali, yakni untuk mendapatkan pinjaman lagi dan melanjutkan hidup esok harinya. Jadi tidak ada alasan bagi mesyarakat miskin untuk tidak membayar hutangnya kembali.

Yunus beserta stafnya memulai usaha kredit bagi kaum miskin Bangladesh dengan usaha pinjaman kecil – kecilan sampai akhirnya berdiri Grameen Bank yang sahamnya dimiliki oleh nasabah – nasabahnya sendiri, sehingga gramen dijuluki bank kaum miskin. Dan kerja keras Yunus dan stafnya membuahkan hasil ribuan keluarga miskin berhasil meninggalkan kemiskinannya jauh dibelakang, bahkan grameen bank juga direplikasi dibanyak negara seperti Filipina, Malaysia, negara bagian Arkansas, dan lain – lain.

Yunus telah membuktikan bahwa akses kredit dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat miskin dan memutuskan lingkaran setan kemiskinan. Sudah seharusnya profesor – profesor ekonomi mengikuti jejak Yunus, turun gunung mengaplikasikan teorinya di lapangan, tidak hanya mengajarkan teori – teori ekonomi kapitalis di kelas. Dan sudah saatnya para bankir merangkul kaum miskin sebagai nasabahnya, jangan hanya ongkang – ongkang kaki menitipkan dananya ke SBI, yang hanya menambah beban negara. Pemerintah dan masyarakat harus bersama – sama berperang melawan kemiskinan.

Recommended Book :
Yunus, Muhammad.2007. Bank Kaum Miskin. Jakarta : Marjin Kiri.

[1] . Peraih Nobel Perdamaian 2006

Add a Comment
How would you rate this thing? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help