Kisah ini kukutip dari bukunya akh’ Salim A. Fillah, Selamat menyelami keindahan kisahnya
Bermula dari ‘cowo’ borju tetapi ‘alim, yang harus menunda shalat jama’ah hanya karena masih menyisir rambut, ia memulai kisah perbaikan diri yang menakjubkan dari atas kursi khilafah. Dua tahun lima bulan saja. Dan ia berhasil menggelar keadilan, kemakmuran, kejayaan, dan nuansa kehidupan ala Khulafaur Rasyidin.
‘afwan, antum semua sudah mafhum akan kisah ‘Umar ibn Abdu Aziz. Tetapi adalah pernah suatu ketika ia jatuh hati pada seorang gadis. Hanya, Fatimah bnti ‘Abdul Malik, putr sang paman yang saat itu telah mendampingi hari – harinya sebagai isteri belum mengizinkan Umar menikahi gadis itu. Cinta itu tetap ada, hidup, dan menyala meski api belum bertemu sumbunya.
Kemudian hari itu dating menghampiri. Dipuncak pengorbanan yang harus diberikan Umar untuk memperbaiki diri, keluarga, wangsa, rakyat, dan negerinya : fisik yang anjlok, tanpa istirahat, tanpa gizi memadai, tanpa jeda untuk sekedar tertawa. Seperti jawaban Muzahim, seorang budak sekaligus menteri perdananya saat Umar bertanya, “bagaimana kondisi kaum muslimin pagi ini ?” Muzahim tersenyum. “Semua kaum muslimin dalam kondisi sangat baik wahai Amiral Mu’minin …,kecuali saya, anda, dan baghal (percampuran antara kuda dan keledai) tunggangan anda ini!”, begitu katanya.
Lalu ditumpukan laktat perjuangannya, Fatimah yang merindukan senyum di wajah Umar dating membawa gadis itu untuk dinikahi. Ya, gadis itu. Gadis yang sangat dicintainya, begitupun sebaliknya. Nyala cnta itu berbinar, merajut kembali sumbu harapan, membirukan warna romantika dikelelahan hatinya. Tetapi, cinta semasa dan cita besar perubahan bertemu atau bertarung. Di sini, dipelataran hati sang Khalifah. Dan ajaib, Umar justru menikahkan gadis itu dengan pemuda lain.
Tak ada cinta yang mati disini. Karena sebelum meninggalkan kediaman Umar, gadis itu bertanya sendu, “Umar, dulu kau pernah sangat mencintaiku, tapi kemanakah cinta itu sekarang?”
Umar bergetar haru, ada sesak didadanya. ”cinta itu masih tetap ada...”, ia menjawab. ”bahkan kini rasanya jauh lebih dalam ...”